The Fenomena Campur Kode Dalam Meme Pada Aplikasi X Akun Menfess @Bandungfess

Penulis

  • Anisa Sulistiawati Universitas Padjadjaran
  • Cece Sobarna Universitas Padjadjaran
  • Hera Meganova Lyra Universitas Padjadjaran

DOI:

https://doi.org/10.55215/triangulasi.v5i2.29

Kata Kunci:

Campur kode, meme, menfess, aplikasi x

Abstrak

Penelitian ini membahas fenomena campur kode dalam meme pada aplikasi X akun Menfess @Bandungfess. Dalam penelitian ini dibahas bentuk-bentuk campur kode apa saja yang digunakan oleh warganet pada sebuah meme di media sosial X. Faktor apa saja yang menyebabkan warganet menggunakan campur kode dalam sebuah meme. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemunculan meme di media sosial X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah meme-meme di akun @Bandungfess. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode yang dominan adalah pencampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, serta beberapa pencampuran bahasa Inggris dan bahasa Sunda. Bentuk campur kode yang ditemukan meliputi kata, frasa, dan klausa.  Faktor-faktor yang memengaruhi campur kode adalah: (1) latar belakang penutur dan mitra tutur yang memiliki kedekatan budaya Sunda, (2) topik pembicaraan yang bersifat informal, emosional, dan kontekstual, (3) kebiasaan berbahasa di media sosial yang santai (attitudinal type), dan (4) fungsi humor serta keakraban (insider jokes).

Referensi

Arifianti. (2014). Buku Ajar Sosiolinguistik. CVM

Castells, M. (2010). The rise of the network society: The information age: Economy, society, and culture (Vol. I). John Wiley & Sons.

Darmayanti, N. (2012). Bahasa daerah sebagai identitas budaya. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 12(1), 45–56.

Dawkins, R. (1979). The selfish gene. Oxford: Oxford University Press.

Hakim, L. dan Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik (Edisi Ketiga). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Maemunah, E.(2019). Medan Makna Aktivitas Tangan “Menyakiti” Dalam Verba Bahasa Sunda (The Meaning Field of Hand “Hurting” Activity in Sundanese Verb). Kandai, 15 (2), 249-260. Medan, 20 Juli 2024 Mahasiswa S2 & S3 Ilmu Linguistik angkatan 2022.

Kaamiliyaa, S., Irawati, R. P., & Kuswardono, S. (2023). Alih Kode Dan Campur Kode Dalam Interaksi Sehari-Hari Oleh Santriwati Pondok Modern Darul Falach Temanggung (Kajian Sosiolinguistik). Lisanul Arab: Journal of Arabic Learning and Teaching, 12(1), 94-111.

Kridalaksana, H. (1986). Kelas kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Murfianti, F. (2018). Meme Di Era Digital dan Budaya Siber.

Nababan, P. W. J. (1993). Sosiolinguistik: Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nababan, P. W. J. (1993). Sosiolinguistik: suatu pengantar.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016, 2017.

Oentari, B. S. (2024). CAMPUR kode bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia sebagai pembentuk humor dalam webtun. Linguistik Indonesia, 42(1), 199-220.

Shifman, L. (2014). Memes in digital culture. The MIT Press.

Suandi, I. N. (2014). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian

Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sumarsono. (2009). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik. Edisi Revisi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwito. (1996). Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: UNS Press.

Ulfiyani, S. (2014). Alih kode dan campur kode dalam tuturan masyarakat bumiayu. Culture, 1(1), 92-100.

Wijana, I. D. P., & Rohmadi, M. (2006). Sosiolinguistik: Kajian teori dan analisis. Pustaka Pelajar.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-30

Cara Mengutip

Sulistiawati, A., Sobarna, C., & Lyra, H. M. (2025). The Fenomena Campur Kode Dalam Meme Pada Aplikasi X Akun Menfess @Bandungfess . Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajaran, 5(2), 146–157. https://doi.org/10.55215/triangulasi.v5i2.29